Selasa, 28 Maret 2017

[Cerpen] Situmbal


Sesaat setelah aku pijakkan kaki turun dari minibus yang mengantarkan aku sampai di depan stasiun kereta di kota Solo ini, mataku langsung tertuju pada pemandangan yang menarik perhatianku. Pemandangan yang tak lazim dan mampu membuat hatiku bertanya-tanya, siapakah dia? Ada apa dengan dirinya?

Ku angkat tanganku untuk melihat arloji yang melingkar di lenganku. 
"Aaahh masih lama ini keretanya, masih ada sekitar dua jam lagi..." gumamku dalam hati.

Lalu aku melangkah menuju warung kopi yang tak jauh dari stasiun. Ku lepaskan ransel besar yang selalu mencekik rongga dadaku agar semua sendi dan tulang punggungku terasa lega hingga aku bisa bernafas lepas.

Lalu aku memesan segelas es kopi capucino untuk mendinginkan seluruh kerongkonganku sembari mengamati seseorang yang membuat hatiku penasaran.

"Merhatiin apa mas...???" Tanya ibu pemilik warung sembari mengaduk gelas lalu menyuguhkan es capucino pesananku.

"Aahh gak kok bu..." jawabku singkat sembari menerima gelas besar yang berisi es capucino dan aku pun tak sabar untuk meminumnya.

Sesekali aku menengok ke arah pertigaan jalan sembari memperhatikannya. Lalu aku ambil gorengan hangat dan cabe rawit, langsung ku kunyah untuk sekedar mengganjal perut untuk mengusir rasa lapar.

"Iri... iri... iri... anan... anan... maju maju..." begitulah ucapannya untuk mengatur lalu lintas di pertigaan itu yang sedari tadi aku perhatikan.

Dengan tangan yang selalu tertekuk, pipi dan bibirnya tebal, mata sipit dan giginya gupis tak rata, postur tubuhnya yang gembul,  Sorot matanya polos dan mimik wajahnya yang selalu datar.

Yaa, dialah anak keterbelakangan mental yang sedari tadi aku perhatikan, walau dengan kekurangannya ia sangat aktif mengatur lalu lintas untuk mengurai kemacetan jalan.

Dalam hati selalu bertanya-tanya, "dimanakah orang tuanya, bukankah anak seperti dirinya butuh perhatian dan pendidikan khusus?" Ucap hatiku penuh heran. Hingga aku lupa kalau aku sedang mengunyah gorengan.

Lalu anak yang sedari tadi aku perhatikan itu, berjalan terseok menuju warung dimana aku berada.

"Buk, es teh atuk yaa, dibung'us..." katanya dengan nada polos. Sembari mengusap keringatnya dengan haduk kecil yang mengalungi lehernya.

Setelah es teh pesanan jadi, dia pun merogoh kantong celananya dan memberikan uang receh tiga ribu rupiah dan langsung berjalan meninggalkan warung kopi ini.

"Dia anak idiot, orang-orang sini memanggilnya Situmbal..." celetuk pemilik warung.

Aku langsung terperanjat mendengar ucapan ibu pemilik warung dengan bahasa blak-blakan.

"Kenapa dipanggilnya Situbal bu...???" Aku kembali bertanya karena tak kuasa menahan rasa penasaran di pikiran ini.

"Sebenarnya dia bukan anak orang sembarangan..." jawab ibu itu sembari membersihkan meja lalu mengambil gelas dan piring bekas pembeli yang baru saja pergi untuk dicuci di ruang belakang.

Rasa penasaran yang kian menjadi, akhirnya aku beranikan diri untuk mengikuti anak itu. Tak lupa ku rogoh kantong celanaku lalu ku ambil uang lima puluh ribuan dan ku berikan ke ibu pemilik warung.

"Ini bu, aku ambil gorengan tiga sama es capucino... kembaliannya ntar yaa bu, sekalian aku titip tas ranselku dulu..." lalu aku segera berjalan mengejar anak tadi.

Ibu pemilik warung hanya bisa mengiyakan sembari menatapku penuh heran.

*****

Keluar dari warung aku sudah tak melihatnya lagi, tengak-tengok ke segala penjuru pun nihil ku dapati, tapi yang jelas dia berjalan ke arah timur dan tanpa pikir panjang aku langsung mengejar kearah anak itu pergi. Setelah beberapa lama aku berjalan sembari sesekali berlari kecil, dari jauh mulai terlihat seorang anak dengan kaos oblong biru yang berjalan terseok, tak lain itu pasti anak yang aku maksud.

Setelah mulai dekat, dan ingin aku dekati untuk aku ajak ngobrol agar aku lebih dekat mengenal dirinya. Namun anak itu malah menghindar dan belok ke gedung perkantoran yang megah, aku pun mengejarnya ke dalam hingga aku dihadang oleh security di gerbang.

"Maaf ada keperluan apa mas...???" Tanya security itu seakan tak mengizinkan aku masuk. Mungkin penampilanku yang lusuh dan kumel karena baru turun dari mendaki gunung hingga security itu seakan menganggapku tak layak masuk ke gedung perkantoran itu. Tapi bukankah anak tadi juga berpenampilan kumal bahkan lebih kumal dari aku?

"Ooh maaf pak, saya cuma ingin mencari teman saya yang barusan masuk kesana pak..." jawabku pada pak security itu.

"Ooh dia dek Apie steveanus...??? Dia kalau jam segini memang waktunya pulang..." jawab security itu menjelaskan, namun membuatku makin penasaran.

"Tapi bukankah dia baru saja jadi tukang parkir di pertigaan sana pak...???" Tanyaku dengan mimik wajah heran.

"Iyaa, tapi kalo sudah jam segini dia akan menemui ibunya untuk diantar pulang...
Dia anak bu Meilin pemilik perusahaan ini..." jawabnya security itu yang mampu mebuat hatiku terperanjat tak percaya.

Lalu aku mengurungkan niatku untuk masuk mengikuti anak itu, membalikkan badan berjalan meninggalkan gedung yang berdiri menjulang. Namun dari jauh aku melihat anak itu sedang ngobrol dengan seorang ibu.

Tapi alangkah terkejutnya aku, melihat bahwa ibu itu adalah ibu yang pernah ku temui di jalur pendakian gunung Lawu kemarin.
"Yaa, aku ingat betul ibu itu yang kemarin ketemu di sebuah petilasan di dalam kawasan Cemoro Sewu tepat sekitar 300m setelah memasuki gerbang pendakian..." ucap hatiku yakin, hingga tanpa sadar aku kembali mendekat.

Aku ingat betul ibu itu, dimana saat itu aku hendak mendaki, dan ibu itu baru saja keluar dari area bangunan pemujaan bersama asistennya.

"Habis ini kita mau kemana lagi bu...???" Ucap asistennya, wanita paruh baya yang selalu setia mendampingi tuannya.

"Habis ini kita ke gunung Kawi Jawa Timur, kita lanjut lagi ritual disana..." jawab ibu itu tenang sembari berjalan turun, menuju parkiran.

Aku yang berpapasan dan mendengar ucapan mereka serasa aneh, masih saja ada di kehidupan saat ini orang-orang menjadikan gunung sebagai tempat untuk sesembahan dan ritual hal-hal yang berbau mistik. Tapi saat itu aku tak terlalu peduli, karena bagiku gunung adalah suatu tempat yang indah untuk mendekatkan diri pada alam semesta beserta Sang Penciptanya.

*****

Lamunanku kembali terjaga lalu aku kembali memperhatikan percakapan Steve dengan ibunya.

Lalu aku mencoba melangkah lebih dekat lagi, mencoba mendengarkan percakapan mereka, walau tak terdengar jelas namun setidaknya aku tau apa yang mereka bicarakan dari mimik wajahnya.

"Ayo mama kita pulang..." ajak anak itu dengan suara besar agak cedal khas anak keterbelakangan mental, sembari merengek menarik-narik tangan ibunya.

"Steve, mama masih banyak pekerjaan, kamu pulang dulu saja biar diantar pak Karso..." jawab ibunya merayu Stave agar mau pulang diantar sopir. 

Namun anak itu tetap ingin pulang bersama ibunya, terus menarik-narik tangannya. Lalu anak itu berlari meninggalkan ibunya yang sontak dikejar security gerbang.

"Jangan pak, biarkan dia pulang sendiri...
Sudah biasa seperti itu..." ucap ibu Meilin dengan nada judes, melarang security mengejarnya.

Bagiku ini pemandangan yang sangat kontras dimana anak yang berpakaian lusuh merengek minta diantar pulang oleh ibunya yang berpenampilan sangat rapi. Namun ibunya seakan tak peduli sama sekali.

"Dia tumbal pesugihan orang tuanya, bahkan ayahnya telah meninggal sesaat dia dilahirkan..." ucap kakek tua yang tiba-tiba datang sembari menepuk pundakku yang sedang khusu' memperhatikan perbincangan antara ibu dan anak yang sangat janggal itu.

Belum sempat aku bertanya lagi tentang Stave, kakek itu segera pergi dengan tongkat kayu dengan jalannya yang mulai membungkuk. Lalu hilang setelah menyeberang jalan tertutup lalu-lalang lalu-lintas jalan.

Dan kembali ku alihkan perhatianku pada Stave yang lari meninggalkan ibunya.

Melihat anaknya pergi seakan ibunya tak menghiraukan, ibu itu malah kembali masuk ke gedung, seakan tak mengkhawatirkan tentang kepergian anaknya.

Dari kejadian ini aku mulai bisa menyimpulkan bahwa keberadaan Stave baginya seakan sudah tak dianggap lagi. Pantas saja semua orang menyebutnya Situmbal. Tumbal keserakahan seorang ibu yang tak punya hati.

Jika memang cerita yang aku dengar ini benar adanya, atau hanya sebatas isu dan mitos belaka, namun apapun itu menelantarkan anak demi karirnya adalah sebuah tindakan yang tak pantas dilakukan oleh seorang ibu. Anak yang memiliki keterbelakangan mental bukanlah suatu aib atau beban bagi keluarga, namun sebagai orang tua justru seharusnya memberi perhatian lebih pada anaknya.

Di dalam lamunanku aku kembali tersadar bahwa aku sedang berada di kota orang, kembali ku angkat tanganku untuk melihat arloji yang melingkar di lenganku.

"Waduh 15 menit lagi keretanya datang..." ucapku dalam hati penuh kepanikan.

Dan akupun langsung lari menuju warung kopi untuk mengambil tas rangselku lalu segera menuju stasiun untuk melanjutkan perjalananku.

*****

Namun setelah aku sampai di warung kopi aku melihat banyak orang berkerumun tak biasa. Aku juga melihat ada bercak darah diaspal tapat di pertigaan yang menandakan ada bekas kecelakaan.

Lalu aku masuk ke warung kopi itu untuk mengambil tas ranselku, aku mencoba bertanya pada ibu pemilik warung.

"Ada apa bu, kok ramai di depan sana...???" Tanyaku sembari mengangkat tas ransel untuk ku gendong di punggungku.

"Itu mas, Situmbal kecelakaan..." jawab ibu itu singkat dengan raut wajah yang terlihat cemas.

Aku langsung terperanjat mendengar kabar itu, seakan tak percaya semua yang terjadi ini. Walaupun aku baru saja mengenal sosoknya, namun seakan aku ikut merasakan kehilangan.

Namun jam arloji yang melingkar di lenganku menunjukkan bahwa 5 menit lagi kereta akan datang. Dan tak ada waktu lagi selain harus bergegas pergi. Aku berlari menuju stasiun yang tak jauh dari warung itu, sembari sesekali menengok ke belakang melihat dimana orang-orang masih berkerumun di bekas kecelakaan.

"Apapun yang terjadi padamu, semoga semua ini yang terbaik Stave..." ucap hatiku sembari melangkah memasuki stasiun kereta api.

Sesaat setelah sampai di dalam stasiun, kereta pun datang tepat waktu, dengan nafas yang masih tersengal-sengal aku langsung naik dan mencari tempat duduk yang sesuai di tiket keretaku.
Dan aku pun duduk di samping jendela agar pandanganku lebih luas menikmati perjalanan.

Lalu kembali ku angkat tanganku untuk melihat arloji yang melingkar di lenganku.
Waktu menunjukkan pukul 13.35wib dan kereta pun berjalan sesuai jadwal keberangkatan.

"Selamat tinggal kota Solo, selamat tinggal Stave...
Sebuah nama, sebuah kota yang tak mungkin ku lupa..."


Selasa, 07 Februari 2017

Pendakian Gunung Lembu, Berikut Tips dan Info Lengkapnya.


Sebuah review perjalanan mendaki seorang diri.


Ingin mendaki gunung yang gak terlalu menguras tenaga, bisa mendaki dengan santai tapi kita tetap bisa menikmati view yang spektakuler? Jawabnya: mendakilah gunung Lembu di Purwakarta.

Yaa gunung yang mungil ini memang memberikan sajian yang khas dan enak buat nongkrong lama-lama di puncak tapi gak perlu cape' dan bisa juga tek-tok gak perlu bawa tenda.

Terus dimana siih letak gunung Lembu ini dan bagaimana akses menuju kesana...???

Oke, mari kita bahas...
Gunung Lembu terletak di kabupaten Purwakarta, tepatnya di kampung Panunggal Rt 006 Rw 003, Desa Panyindangan, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.
Sebenarnya gunung Lembu ini tidak masuk dalam kategori gunung, hanya sebuah bukit yang terletak di sebelah selatan waduk Jatiluhur. Namun dalam masyarakat kita setiap gugusan yang memiliki puncak cenderung disebut gunung.

Untuk menuju pos pendakian gunung Lembu ini, terlebih dahulu kita harus menuju kota Purwakarta, karena saya dari Jakarta saya lebih memilih menggunakan jasa angkutan kereta api, apalagi dari stasiun Jakarta Kota menuju stasiun Purwakarta jika menggunakan kereta lokal tarifnya sangat murah, yaitu hanya sebesar Rp 6.000,-


Tiket Kereta Lokal yang relatif murah.



Keadaan didalam gerbong, lumayan nyaman.


Stasiun Purwakarta, dengan patung yang gagah tinggi menjulang.

Dari stasiun kita bisa carter mobil angkot, karena tidak ada angkutan umum yang bisa mencapai ke pos pendakian, jadi solusi satu-satunya hanya carter mobil. Biasanya tarifnya antara 200rb sampai 250rb permobil, dan menurut pengalaman saya kemarin 440rb sudah antar jemput.

Tapi pertanyaannya, jika kesana tidak membawa rombongan gimana...???
Jangan kuatir, perjalanan saya kemarin juga tidak membawa rombongan, bahkan saya sengaja trip seorang diri. Dan menurut pengalaman saya saat sampai di stasiun Purwakarta disana pasti ada saja para pendaki yang hendak ke gunung Lembu. Kita bisa nebeng ikut bersama mereka untuk carter mobil bersama.

Kalaupun pahit-pahitnya kita gak menemukan rombongan karena kesana bukan di hari libur, kita bisa menggunakan jasa ojek, tapi tentunya dengan tarif yang lebih tinggi


Suasana di basecamp pendakian gunung Lembu.

Setelah sampai di basecamp pendakian gunung Lembu, kita bisa mendaftarkan diri disini, dengan tarif Rp 10.000,-
Di basecamp ini terdapat fasilitas yang sangat memadai, seperti toilet, tempat istirahat dan tidur, warung makan, charger HP, tempat parkir, mushola, air bersih, dll.

Sebelum mendaki, mendaftarkan diri dulu.

Setelah mendaftarkan diri dan istirahat, kita bisa langsung mulai mendaki. Perjalanan dimulai dari basecamp melewati jalur yang masih cukup landai dan disisi kiri dan kanannya terdapat hutan bambu. Setelah berjalan sekitar 15 menit dari basecamp kita akan sampai di pos Saung Ceria, ini bukan pos 1 hanya sebuah area camp atau camping ground yang cukup luas dan dengan sajian pemandangan yang sangat indah. Disini juga terdapat warung makan dan rumah pohon. Jadi bagi yang tidak membawa perlengkapan camping kita bisa makan di warung makan dan tidur di rumah pohonnya.

Trek awal pendakian, melewati hutan bambu.

Suasana di pos Saung Ceria.

Jika tidak mau berlama-lama disini kita bisa langsung melanjutkan perjalanan menuju pos 1. Dari Saung Ceria ini untuk menuju pos 1 hanya membutuhkan waktu sekitar 5 menit saja. Di pos 1 juga terdapat warung dan rumah pohon (gardu pandang), tapi rumah pohon di pos 1 cenderung sudah mulai rusak dan tidak beratap, jadi kita kudu berhati-hati untuk menaiki ke atas rumah pohon ini dan jika ingin bermalam di pos 1 ini direkomendasikan untuk tidur di warung makan yang ada di pos 1, karena di gardu pandang tidak layak untuk tidur, selain tidak ada atapnya juga keadaannya sudah mulai rusak.

Suasana di pos 1, banyak warung dan tempat tempat untuk istirahat.

Gardu pandang.

Di pos 1 banyak tempat sampah, so buanglah sampah pada tempatnya.

Dari pos 1 perjalanan dilanjutkan mengikuti jalur yang makin menanjak, dan hutan bambu pun berganti dengan hutan hujan tropis yang tentunya suasananya jadi lebih adem.
Setelah berjalan sekitar 35 menit kita akan sampai di pos 2.
Di pos 2 ini tidak ada area camp, tidak ada saung ataupun warung makan, hanya jalur biasa yang sempit namun cenderung datar. Disini juga tidak ada view yang bisa kita nikmati karena sisi kiri dan kanan hanya pepohonan, jadi ini bukan tempat yang tepat untuk istirahat berlama-lama.

Pos 2.

Dari pos 2 perjalanan dilanjutkan mengikuti jalur yang agak landai, mengikuti garis punggungan sempit namun tetap adem walau berjalan disiang hari. Setelah berjalan sekitar 15 menit kita akan sampai di Jalur Sangkar Elang. Dimana jalur ini kita bisa menikmati pemandangan yang cukup indah, didepan nampak puncak gunung Lembu yang dikelilingi waduk Jatiluhur disisi kiri dan kanannya.
Namun tepat sebelum jalur Sangkar Elang terdapat saung dan warung makan. Kita bisa istirahat disini untuk sekedar melepas lelah.

Saung dan warung yang bisa digunakan untuk istirahat.

Jalur Sangkar Elang.

Setelah melewati jalur Sangkar Elang perjalanan kembali nemanjak ekstrim, namun ditempat-tempat yang terjal itu biasanya terdapat tali pengaman untuk berpegangan saat kita mendaki. Dari jalur Sangkar Elang sekitar 20 menit kita akan sampai di puncak gunung Lembu.

Trek yang cukup terjal.

Dibeberapa titik terdapat tali pengaman.


Di puncak gunung Lembu ini tidak terdapat tanah lapang dengan view terbuka, namun sebuah area camp yang cukup sempit dan dikelilingi hutan, jadi puncak ini hanya untuk mendirikan tenda saja. Tapi bagi yang tidak membawa tenda sebaiknya perjalanan diteruskan mengikuti jalur yang cenderung menurun menuju Batu Lembu.


Puncak Lembu.


Area camp disekitar puncak.

Setelah berjalan sekitar 10 menit dari puncak, kita akan sampai di Batu Lembu, namun bagi yang tidak membawa tenda jangan kuatir, karena tepat sebelum Batu Lembu terdapat warung makan dan saung yang bisa kita gunakan untuk istirahat ataupun tidur.

Warung dan saung tepat sebelum Batu Lembu.

Setelah perjalanan dari basecamp dan beberapa kali istirahat yang memakan waktu sekitar 2 jam, akhirnya kita akan sampai di Batu Lembu, lokasi favorit yang dituju dalam perjalanan mendaki gunung Lembu. Karena disini kita bisa menikmati view yang terbuka dengan pemandangan yang spektakuler. Dimana kita berdiri diatas batu besar dengan pemandangan waduk Jatiluhur yang membentang, disebelah kanan nampak tebing Parang, didepan nampak kerambah ikan yang terapung ditengah-tengah waduk, hamparan waduk itu membentang hingga ke sisi sebelah kanan. Jika malam hari akan nampak indah karena kerlap-kerlip lampu kerambah tersebut penghias di kegelapan malam.

Selamat datang di Batu Lembu.

View di Batu Lembu.

Suasana di Batu Lembu.

Jika kita ngecamp di sekitar Batu Lembu, kita akan mendapatkan pemandangan seperti ini.

Menikmati keindahan suasana Batu Lembu.

Dan kalau sudah sampai disini gak selfie, rasanya kurang afdol, maka dari itu kita harus selfie sebanyak-banyaknya, biar kekinian... hahahaa...
berikut foto-foto selfie saya:














Tips dan Info Lengkapnya
● jika ingin mendaki gunung ini sendiri atau tidak bersama rombongan, sebaiknya pas waktu hari libur, biar kita nebeng bareng rombongan lain.

● gunung ini memang tidak membutuhkan waktu tempuh lama, tapi bagi yang menggunakan transportasi kereta api, gunung ini tidak dapat dilaju dalam satu hari perjalanan. Kecuali bagi yang tinggal di sekitar Purwakarta dan dengan menggunakan sepeda motor. Jadi sebaiknya perjalanan dimulai pada hari sabtu dan pulang pada hari minggu.

● sepanjang jalur menuju puncak tidak terdapat mata air, jadi jika ingin mendirikan tenda diatas sebaiknya membawa air sepenuhnya dari basecamp.

● gunung ini mempunyai trek yang relatif aman dan tidak terlalu ekstrim, jadi mengajak balita dan anggota keluarga lain masih memungkinkan.

● jika hari libur biasanya suasana sangat ramai, tapi jangan kuatir tidak mendapatkan lokasi untuk mendirikan tenda, karena disekitar Puncak samoai Batu Lembu, walaupun sempit namun banyak titik-titik yang bisa untuk mendirikan tenda. So, jika sampai Puncak ternyata sudah penuh, jalan terus saja nanti pasti menemukan tempat untuk mendirikan tenda. Karena Puncak bukan titik akhir perjalanan.

● jika musim penghujan jalur cenderung licin, sebaiknya pakai sepatu treking. Tapi jika musim kemarau memakai sandal gunung masih tergolong direkomendasikan.

● jalur pendakian cenderung jelas dan tidak banyak percabangan alias tidak membingungkan, jadi mendaki seorang diri pun masih aman.

● gunung Lembu ini memang tergolong gunung yang mudah didaki, namun mempersiapkan fisik yang fit hukumnya wajib. Usahakan rutin latihan dan olahraga dua minggu sebelumnya.

● untuk logistik sebaiknya persiapkan dari rumah, karena di sekitar stasiun atau basecamp tidak terdapat pasar tradisional. Jika lupa belum membawa perbekalan saat carter mobil bilang sama sopirnya agar berhenti sebentar di pasar.

● untuk keuangan sebaiknya juga disiapkan dari rumah karena disekitar stasiun atau basecamp tidak ada mesin ATM, jika persediaan uang menipis sebaiknya bilang sama sopir untuk berhenti di gerai ATM, atau jika di stasiun kita bisa berjalan kaki mencari minimarket untuk mengambil uang cash.

● estimasi biaya: 
kereta lokal Rp 6.000 + carter angkot Rp 30.000 = Rp 36.000 (jadi kalo PP = Rp 72.000)
+ tiket masuk Rp 10.000 jadi total biaya perjalanan Rp 82.000
Masalah konsumsi bisa dikira-kira sendiri.


● gunung Lembu tergolong mempunyai jalur yang bersih, entah dari pendakinya yang sudah sadar akan kebersihan atau memang team relawan basecamp yang rutin membersihkan jalur pendakiannya, yang jelas jalur yang sudah bersih ini jangan dibikin kotor karena ulah kita yang tak bertanggung jawab dengan membuang sampah sembarangan. 

So, "bawa turun sampahmu, karena sampahmu adalah tanggung jawabmu..."

Mungkin ini saja review yang bisa saya sampaikan berdasarkan pengalaman perjalanan saya kemarin. Semoga bermanfaat buat teman-teman yang ingin melakukan pendakian ke gunung Lembu.

Salam lestari dari saya, Ahmad Pajali Binzah.

************************************************
************************************************


Jika review ini kurang jelas silahkan tonton versi videonya, karena disini digambarkan dari awal perjalanan hingga sampai di Batu Lembu detail demi detail.


Kalau videonya susah diputar, silahkan klik https://youtu.be/2nZhG5HUHNY

************************************************
************************************************

BACA JUGA:
Info Lengkap Danau Biru Cisoka, Tanggerang.
Info Lengkap backpacker ke pulau seribu.
Info Lengkap Curug Bajing, Petungkriyono.

Info Lengkap Curug Bidadari, Batang.
Info Lengkap Curug Cigamea, Bogor.
Info Lengkap Curug Blanten, Pekalongan.
Menjelajahi Petungkriyono.

*****

Jumat, 13 Januari 2017

[Cerpen] Badai Senja di Lereng Merapi (ending)


Untuk awal cerita KLIK DISINI


Dengan penuh penasaran dan sedikit gugup Fathir mulai membuka buku itu.
Halaman demi halaman dia buka satu persatu, mulai dari tentang riwayat hidupnya yang kedua orang tuanya berpisah dan akhirnya ia ikut bersama neneknya, mbok Minah. Hingga dihalaman yang bercerita tentang pertama pertemuannya dengan sahabatnya, Fathir.


Hari ini senin 5 september 2011, awal pertemuan ku dengan seseorang yang bernama Fathir,
Dia bertubuh tegap, tinggi besar dengan tato di punggung yang selalu dia tutupi.
(Hanya aku dan sahabat dekatnya saja yang tau, karena jika sampai guru BP tau mungkin kelar riwayat hidupnya di sekolah ini)
Karena postur, tampang dan keberaniannya, menjadikan dia anak yang ditakuti di sekolahnya.
Dia adalah centeng sekolah.


Membaca tulisan itu Fathir merasa tersanjung dan teringat masa-masa perkenalannya dengan Rey.

Waktu itu saat terjadi tawuran antar sekolah, Rey yang anak baik-baik saat itu sedang asyik membaca buku, dia tak tau menau tentang tawuran yang tengah terjadi di sekitar alun-alun Mataram. Melihat Rey yang duduk sendiri pihak musuh langsung mendatangi Rey yang masih berseragam satu sekolah dengan Fathir. Tanpa basa-basi Rey langsung dikeroyok oleh rombongan STM Wiradesa musuh bebuyutan STM dimana Rey sekolah.

Melihat anak satu sekolah dihajar musuh, rombongan Fathir langsung datang menolong.
Dan sejak saat itulah Rey berkenalan dengan Fathir, centeng sekolah.

Bersahabat dengan Fathir, lambat laun cara pandang Rey mulai berubah, semula Rey ingin menjadi anak baik-baik, sejak saat itu Rey mulai kenal dengan dunia hitam.

Tak hanya berkelahi, minum minuman keras pun sudah menjadi rutinitas kebiasaannya. Rey yang dulu rajin dan tergolong anak pintar kini menjadi Rey yang sering bolos dan menjadi anak nakal.

Apapun itu, menjadi sahabat Fathir mampu membuat hidup Rey jadi sangat berwarna. Rey merasa menemukan dunianya yang baru dan merasakan indahnya kenakalan dimasa-masa remaja.

*****

Walaupun kami memilih jalan hidup yang gelap dan berlumur dosa, namun Fathir adalah sahabat terbaikku.
Aku kenal betul siapa Fathir, sejahat-jahatnya kami, kami punya aturan main yang manusiawi....
Saat tawuran kami tak pernah membawa senjata tajam, walaupun pihak musuh membawa kami tak sedikitpun gentar...
Kami tak pernah melukai lebih dalam saat musuh sudah menyerah....
Kami juga gak akan menyakiti perempuan walaupun itu dari pihak musuh...
Dan semabuk-mabuknya kami, kami tak pernah membikin onar...
Serusak-rusaknya prilaku kami, kami tidak pernah merusak prilaku orang...
Yaa, begitulah prinsip yang kami pegang...

Membaca tulisan itu Fathir teringat masa-masa saat remaja dulu, hari-hari yang begitu indah telah dilaluinya bersama sahabat sejatinya Rey. Tak terasa air mata Fathir menetes haru, membayangkan sosok tulus dari persahabatannya dengan Rey.

*****

Hari ini 7 desember 2011, aku berkenalan dengan bidadari yang selalu hadir dalam mimpiku, begitu indah terasa saat itu, hingga saat-saat perkenalan itu selalu terbayang-bayang di kepalaku.
Dia adalah Raisya, adik dari sahabatku sendiri. Aku mengenalnya saat aku datang ke rumah sahabatku itu, Fathir.

Melihat tulisan itu seketika mata Fathir terbelalak, jiwanya tersentak seakan tak percaya sahabatnya mencintai adiknya.
Sudah empat tahun lebih Rey menyimpan rahasia itu darinya.

"Tapi kenapa Rey menyembunyikan semua ini dariku...???
Bukankah Rey juga yang mendukung dan membela mati-matian saat Raisya hendak pacaran dengan Rendi...???
Kenapa Rey yang menjelaskan padaku agar aku merestui hubungan Raisya dengan Rendi sementara Rey sendiri mencintai Raisya...???" Hati Fathir terus bertanya-tanya.

Ditengah pikirannya yang kacau, Fathir kembali membuka lembar demi lembar buku itu.

Hari ini, 16 juli 2012 aku bersama sahabat-sahabatku, kami semua sedang asyik minum, tak disangka sahabatku Dodi yang sudah mabuk berat tiba-tiba ngeromet dan berkata ngelantur, bahwa ternyata Dodi juga mencintai Raisya adik Fathir, mendengar itu Fathir yang juga tengah mabuk tak terima.
Fathir berprinsip, sejahat-jahatnya dia, dia ingin adiknya pacaran dengan cowok baik-baik.
Berawal dari kata-kata ngelantur Dodi, karena sama-sama mabuk perkelahian pun tak dapat dihindarkan. Dodi dihajar habis-habisan oleh Fathir.

Atas kejadian ini aku jadi sadar, aku tak mungkin bisa memiliki Raisya. Biarlah aku simpan dalam-dalam rasa cinta ini....

Lebih baik aku merasakan perihnya menyimpan rasa cinta, dari pada harus merasakan kehilangan sahabat yang sudah aku anggap sebagai saudara...

Bukankah jika aku bersahabat dengan Fathir, aku tetap bisa dekat dengan Raisya...???
Sementara jika aku kehilangan Fathir, itu artinya aku juga kehilangan Raisya...

Bukankah mencintai tak harus memiliki...???
Jika melihatnya saja sudah bisa membuatku bahagia, kenapa harus ada ego untuk memilikinya...???

Dengan membaca tulisan itu, akhirnya Fathir tau mengapa selama ini Rey menyembunyikan perasaannya pada Raisya.

*****

Kini 7 desember 2015 genap empat tahun aku bersahabat dengan Fathir, Fathir yang dulu arogan kini sudah mulai berubah lebih dewasa.
Aku ikut bangga saat ini dia bisa masuk universitas teknik negeri di Bandung. Walaupun kami harus berpisah karena aku meneruskan kuliah di Pekalongan, karena aku ingin tetap membantu warung simbokku.

Tapi setidaknya tiap liburan aku masih bisa bertemu dengannya. Mendaki gunung bersama, begadang sampai malam atau sekedar kebut-kebutan di jalan.
Bagiku itu sudah cukup untuk mewarnai hidupku bersama Fathir.

"Fathir, you is my best friend..."

Semua kata-kata Rey dalam buku itu mampu membuat Fathir terharu dan bangga padanya.

"Kau benar-benar sahabatku Rey..." bibirnya berucap lirih. Sembari memeluk buku itu.

Namun disaat hatinya sedang haru biru, tiba-tiba hatinya tersentak mendengar ucapan petugas SAR yang sedang berbicara lewat HT dengan team SAR yang berada diatas, bahwa sebanyak 26 pendaki yang terjebak di Pasar Bubrah telah berhasil dievakuasi dengan selamat, dan saat ini mereka sedang berjalan menuju basecamp.

Mendengar itu hati Fathir sangat lega, wajahnya berbinar dan ingin segera menyambut kedatangan sahabatnya itu.

"Rey, aku bangga atas keberanianmu...
Kau mampu menyelamatkan banyak nyawa..." bibirnya kembali berucap lirih. Seakan siap menyambut dan siap memeluk kedatangan Rey.

****

Tak berapa lama, nampak di kejauhan iring-iringan lampu senter yang menandakan kedatangan para pendaki yang sudah dinanti-nantikan kedatangannya.

Namun saat rombongan itu telah tiba, Fathir tak menemukan sahabatnya itu, satu-persatu para pendaki itu memasuki basecamp diperhatikan, namun Fathir tetap tak menemukan Rey, bahkan ada sebagian yang dipapah karena cidera kaki, ada pula yang ditandu karena terserang hipotermia pun semua tak luput dari perhatian Fathir.

"Dimana kamu Rey...???" Ucapnya penuh kekhawatiran.

Ditengah kepanikan yang membakar jiwanya, tiba-tiba terdengar suara salah seorang team SAR yang sedang berbicara dengan anggota yang masih berada di atas. Bahwa telah ditemukan tiga pendaki dalam keadaan meninggal dunia, diduga karena terserang hipotermia.

Seketika hati Fathir terasa tersambar petir, mendengar kabar itu. Matanya terbelalak, ototnya serasa kejang dan denyut jantungnya berdebar kencang.

"Tidak... tidak... Rey akan baik-baik saja..." hatinya mencoba mengelak dari firasat di dalam pikirannya.

*****

Sementara itu, kabar meninggalnya tiga pendaki itu langsung menyebar di media sosial, group-group pendaki gunung di facebook langsung membicarakan kabar itu. bahkan berita itu sampai di redaksi televisi yang segera menerjunkan wartawannya untuk menuju tkp, basecamp Selo.

Hiruk-pikuk di basecamp semakin ramai, bahkan dari pihak kepolisian pun datang untuk meninjau dan mengkonfirmasi kabar itu.

Tepat pukul 00.00 dini hari petugas berhasil mengevakuasi ketiga jenazah pendaki itu. Para wartawan dari berbagai media berkumpul, petugas kepolisian, team SAR, team medis, dll. Semua sudah siap menunggu kedatangannya.

Tak terkecuali Fathir, dia berada paling depan untuk menunggu dan memastikan bahwa ketiga jenazah itu bukan sahabatnya Rey.

Saat rombongan team SAR yang membawa ketiga jenazah itu sampai, para petugas basecamp langsung menghalau, hanya team medis saja yang diperbolehkan masuk.

"Pak... tolong izinkan aku masuk...!!!
Aku ingin memastikan sahabatku...!!!" Teriak Fathir pada petugas yang berdiri di depan pintu.

Sementara para wartawan hanya bisa memotret dan mewancarai petugas SAR dari luar.

Fathir terus berusaha merengsek masuk, namun tetap dihalau petugas. Saat team medis selesai mengindentifikasi barulah Fathir diizinkan masuk.

Alangkah terkejutnya Fathir, saat melihat orang yang berbaring di kantong jenazah itu sahabatnya sendiri, Rey.

"Rey....!!!! Reeeyyy....!!!!" Fathir berteriak sekencang-kencangnya, sembari memeluk tubuh Rey.

Tak terbayang betapa sedihnya Fathir saat sahabat setianya telah terbujur kaku di perlukannya. Fathir terus berteriak histeris, tak menghiraukan sekelilingnya.

Lalu dengan pelan Fathir merebahkan tubuh Rey dengan pelan, dipukulnya dada Rey tiga kali keras sekali. Tak hanya itu, dibenturkannya kepala Rey ke kepalanya sembari menangis dan berucap,

"Seperti janjiku Rey, kalau sampai aku tau kau mencintai adikku, akan ku pukul dadamu tiga kali, dan ku benturkan kepalamu di kepalaku...
Rey... kenapa kamu tidak terus terang padaku Rey... kenapa...!!!???" Fathir terus berbicara sendiri penuh emosi, sembari menggoyang-goyangkan tubuh Rey.

"Seandainya aku tau kamu mencintai adikku, aku pasti merestui itu Rey...
Kau bukan orang jahat, kau orang terbaik yang aku kenal...
Kau sungguh orang baik Rey..." bibir Fathir terus berucap, namun nadanya mulai lemah seiring tubuhnya yang telah lunglai.
Fathir mulai tak sadarkan diri, dia berbaring lemas disamping jenazah sahabatnya.

*****

Sementara itu, berita meninggalnya tiga pendaki terus menyebar luas, di televisi dan di sosial media terus membicarakannya. Apalagi dari ketiga pendaki itu ada satu yang tidak memakai perlengkapan standar, hanya memakai kaos oblong, dan celana pendek tak memakai alas kaki.
Hal inilah yang mengundang banyak bully dari berbagai pihak.

"Pemirsa, kali ini kami melaporkan langsung dari basecamp pendakian gunung Merapi, dimana saat ini telah terjadi insiden badai besar yang menewaskan tiga orang pendaki yang diduga meninggal karena serangan badai dan udara dingin yang ekstrim..." ucap reporter televisi didepan kameramen untuk menyiarkan langsung kejadian itu.

"Tapi pemirsa, yang perlu digaris bawahi disini adalah perlunya kita meningkatkan standarisasi keselamatan dalam pendakian, selain dari pihak pengelola, dari para pendaki itu sendiri harus meningkatkan persiapan baik dari segi mental dan perlengkapan...
Disini bisa kita lihat masih ada saja seorang yang mendaki gunung dengan memakai perlengkapan yang tidak memadai, sehingga saat terjadi sesuatu diluar dugaan ini akan beresiko tinggi..." ucap reporter terus menjelaskan tentang kejadian ini.

Setelah diizinkan masuk untuk meliput, reporter itu lalu mendekat ke jenazah yang dimaksud tadi yang diikuti kameramen yang terus menshoot secara live, setelah mendekat ke jenazah itu, yang hanya memakai kaos oblong dan celana pendek, reporter tadi terus menjelaskan secara detail kondisi jenazah tersebut.

"Pemirsa, disini terlihat bahwa masih saja ada pendaki yang tidak mementingkan keselamatan dirinya sendiri, terlihat dari cara berpakaiannya yang alakadarnya. Bukankah di gunung kita harus membawa perlengkapan yang safety, mulai dari sepatu, baju hangat dan yang terpenting raincoat untuk melindungi kita saat terjadi hujan..." reporter tersebut terus berbicara secara live dan seakan ikut membully atas kejadian ini.

Namun saat Fathir berbaring di samping jenazah sahabatnya, sayu-sayu dia mendengar apa yang diucapkan reporter tadi.
Merasa tak terima Fathir langsung berdiri tepat di depan reporter yang sedang live.

"Maaf mbak, bukan ikut campur urusan pekerjaan anda...!!!
Apakah anda sudah konfirmasi dulu pada orang terdekat korban kenapa korban dalam keadaan demikian...???" Suara Fathir lantang melawan reporter tadi.

"Seharusnya mbak konfirmasi dulu pada saya atau saksi-saksi di TKP sebelum menjustifikasi seperti itu...!!!
Demi Allah saya saksinya, dia sahabat saya mbak... dia sependakian dengan saya...
Saya melihatnya sendiri dia sebelum kejadian itu berpakaian lengkap, lebih dari sekedar safety seperti yang anda ucapkan tadi..." Fathir menjelaskan dengan nada yang meninggi. Dia tidak terima sahabatnya disudutkan seperti itu, apalagi dia sudah dalam keadaan meninggal dunia.

Mendengar ucapan Fathir, reporter tersebut hanya diam dan meminta maaf.

Dan tiba-tiba ada pendaki lain yang datang dan ikut menimpali ucapan Fathir.

"Yaa benar, aku saksinya dia pendaki terhebat...
Karena dialah nyawa kami selamat...
Dia yang tiba-tiba datang lalu berteriak kencang, memerintahkan agar kami harus segera turun karena hujan yang terjadi bukan hujan biasa, tapi badai besar yang ekstrim...
Raincoat yang aku pakai ini adalah pemberiannya saat raincoatku terhempas angin saat hendak aku pakai, dan dialah yang memberikan raincoatnya untuku..." ucap salah satu pendaki yang juga menjadi saksi kejadian itu.

"Yaa, sepatu ini juga sepatunya...
Saat kami hendak turun tapi sandal yang aku pakai putus dan dialah yang melepas sepatunya untuk diberikan padaku..."
Ucap salah satu pendaki lain lagi.

"Begitu pula dengan celana panjang ini, dia yang memberikan padaku...
Dia orang yang terbaik yang pernah aku temui..." ucap pendaki lainnya.

"Yaa, saat semua sudah turun, dia melihat sepasang senter yang  bersinar dari atas, tepat sebelum puncak...
Setelah dipastikan ada dua pendaki yang baru saja turun dari puncak terjebak di lebatnya badai, dia nekat naik keatas untuk menyelamatkannya. Kami disuruh turun sementara dia mendaki ke arah dua pendaki tersebut...
Setelah itu kami tak tau lagi nasibnya...
Hingga akhirnya saat ini kita ketahui bersama, bahwa dia akhirnya gugur bersama keberaniannya..." ucap para pendaki yang menyaksikan sendiri aksi heroik seorang Rey.

*****

Sementara itu, pagi pukul 06.00wib berita itu telah menyebarkan di berita televisi.
Betapa sedihnya Raisya, melihat berita musibah itu. Tubuhnya seketika bergetar, menggigil tak kuasa menerima kenyataan ini. Air matanya tak kuasa terbendung, menggambarkan betapa kesedihan yang tengah dialami.

"Rey..." bibirnya berucap lembut memanggil nama seseorang yang selama ini memberi perhatian penuh padanya.

Tak berapa lama terdengar suara ketukan pintu yang menandakan ada orang yang datang.

Lalu dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada, Raisya mencoba berdiri, melangkah ke pintu depan.

Setelah dibuka, betapa kagetnya dia, melihat sosok yang tengah berdiri dihadapannya.

Raisya langsung memeluknya. Erat, erat sekali hingga berapa lama tak terlepas.

"Yang sabar yaaa Sya..." laki-laki itu berucap lirih sembari membelai rambut Raisya yang masih berada dalam pelukannya.

"Kenapa ini harus terjadi pada Rey kak...???" ucap Raisya menangis sesunggukan.
Fathir tak mampu berucap apa-apa lagi, hanya bisa memeluk erat adik yang sangat dicintainya.

Lalu Fathir melepas pelukan Raisya, dan dengan pelan memberikan bungkusan kresek hitam titipan dari Rey.

"Baca ini, ini satu-satunya titipan dari Rey untuk kamu Sya..." ucap Fathir pelan lalu pergi memasuki kamarnya dengan langkah yang gontai tak berdaya.

Semantara Raisya tetap berdiri didepan pintu memandangi bungkusan itu.
Lalu Raisya melangkah masuk, dibawanya bungkusan itu ke dalam kamarnya.

Sesampainya di kamar, dibukanya bungkusan itu yang berisi catatan harian Rey, seseorang yang dengan tulus mencintainya selama ini.

Dibukanya halaman demi halaman yang menceritakan tentang kejadian-kejadian yang dialami Rey. Hingga tangannya berhenti di satu halaman yang menceritakan awal pertemuannya dengan dirinya.

Hari ini aku seperti bermimpi, bertemu dengan seseorang yang selama ini ada dalam mimpiku...
Aku tak percaya bahwa bidadari dalam mimpiku itu nyata...
Dia adalah Raisya, adik dari sahabatku sendiri...
Aku yakin suatu saat aku bisa berkenalan dengannya...
Dan untuk saat ini aku cukup senang bisa memandanginya...

Tulisan dari Rey itu mampu membuat bibir Raisya tersenyum, lalu tangannya kembali membuka ke lembar-lembar berikutnya.

Hari ini 7 desember 2011, aku berkenalan dengan bidadari yang selalu hadir dalam mimpiku, begitu indah terasa saat itu, hingga saat-saat perkenalan itu selalu terbayang-bayang di kepalaku.
Dia adalah Raisya, adik dari sahabatku sendiri. Aku mengenalnya saat aku datang ke rumah sahabatku itu, Fathir.

Membaca itu, angan Raisya terbang kembali ke era dimana dia baru pulang sekolah yang sedang memakai seragam putih biru, diajak kenalan oleh teman kakaknya. Memang dalam hati Raisya moment itu tak berarti apa-apa, namun baru dia sadari ternyata moment yang tak berarti itu sungguh sangat berkesan bagi seorang Rey.

*****

Hari ini 14 februari 2011 aku sengaja menyelipkan sebatang cokelat di tas sekolahnya. Karena aku tau saat ini dia belum punya pacar dan ingin sekali dapet cokelat seperti teman-teman yang lain.

Membaca itu dia baru sadar kalau selama ini dia yang memberikan perhatian penuh padanya, untuk kebahagiaannya.

Raisya terus membuka lembar demi lembar buku catatan itu, yang menjadikannya tau tentang pengorbanan Rey selama ini.

Bahkan dialah yang meyakinkan pada Fathir saat Raisya berpacaran dengan Herman. Fathir yang semula tidak setuju atas penjelasan Rey akhirnya mengizinkan Raisya pacaran, walaupun akhirnya hubungan itu kandas ditengah jalan.

Hingga akhirnya Raisya bertemu dengan Rendi, Rey lah yang berusaha membujuk Fathir agar hubungannya direstui. Padahal sesungguhnya Rey sendiri sangat mencintai Raisya.

Namun bagi Rey, kebahagiaan Raisya jauh lebih penting dari kebahagiaan dirinya sendiri. Walaupun dalam hatinya hancur melihat orang yang dicintainya bersama orang lain.

*****

Hari ini 12 februari 2016 aku sangat merasakan kesedihan yang mendalam, dia yang aku cinta sedang sakit di rumah sakit...
Saat aku hendak menjenguknya, ternyata Rendi telah ada bersamanya...
Terpaksa aku harus menunggu diluar hingga Rendi pulang...
Tapi ternyata buah yang aku bawa sama persis seperti buah yang Rendy bawa...
Dan yang lebih menyakitkan, Raisya lebih memilih memakan buah yang dibawakan Rendi...

Membaca itu Raisya teringat saat di Rumah Sakit, walau dia tak pernah menganggapnya ada, namun Rey lah yang setia menemaninya sampai semalaman di Rumah Sakit.

Rey akan memberikan segalanya untuk kebahagiaannya, walaupun selama ini selalu diabaikannya.

Setelah Raisya putus dengan Rendi, barulah Raisya sadar, bahwa Rey lah yang selama ini dengan tulus mencintainya, menantinya...
selalu ada disaat dia membutuhkannya...

Namun disaat Raisya mulai mencintainya, Rey harus pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.

Raisya terus membuka lembar demi lembar buku itu, yang menjelaskan betapa sayangnya Rey padanya. Setiap bait kata menceritakan keagungan cintanya yang menguras air mata untuk dibaca.
Hingga diakhir tulisannya,

"Jika memang aku tak mampu meneruskan kisahku untuk menjaga hatimu, setidaknya aku ingin kamu tau bahwa akulah orang yang tulus mencintaimu..."

Raisya menangis tersedu, merasakan penyesalan yang mendalam.
Ditutupnya buku itu lalu dipeluknya erat-erat.
Kemudian Raisya membantingkan tubuhnya ke tempat tidur. Matanya menerawang ke langit-langit kamarnya.
Raisya memejamkan mata, hingga dari sudut matanya meneteskan air mata yang mengalir melewati kening hingga telinga. Merasakan setiap hembusan nafasnya sendiri, untuk menenangkan jiwanya, untuk mendamaikan hatinya.
Raisya mencoba terlelap, berharap ini semua hanya mimpi.

Yaa, semoga ini semua hanya mimpi belaka...

=============SEKIAN=============



[Cerpen] Badai Senja di Lereng Merapi


Sore itu, Sinar jingga yang biasa melukis langit serasa tak mampu lagi mewarnai.
Suasana mendung menggelayut tanpa sudut.
Nampak dua anak manusia berdiri diantara ruang buram yang berselimut kabut.
Dia adalah Rey dan Raisya.
Dua anak manusia yang memiliki cinta diwaktu yang berbeda.

Wajah Rey nampak lusuh kumal, matanya sayu menatap Raisya tak seperti biasa.
Kedua tangannya memegang pipi Raisya lalu mencium keningnya penuh cinta.

Tanpa kata Rey membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi darinya. Melangkah pelan lalu hilang diantara kabut yang tebal.

"Rey mau kemana Rey...???" Teriak Raisya dengan wajah cemasnya.

Namun Rey tak menghiraukan, tetap melangkah tenang menembus kabut yang buram.

"Rey, Rey jangan tinggalin aku Rey..." Raisya berteriak sekencang-kencangnya. Mengejar Rey yang menghilang ditengah hamparan kabut.
Namun Raisya terus mencarinya dengan memanggil-manggil namanya, ditengah kepanikannya, tak sengaja Raisya terperosok ke dalam jurang yang dalam.

"Aaaahhhh....!!!!!" Raisya menjerit keras, tubuhnya jatuh kedalam jurang yang dalam.

Tapi,
Seketika Raisya terbangun dari tidurnya, yang ternyata itu hanya mimpi belaka.

"Alhamdulillah, ternyata cuma mimpi..." gumam Raisya dalam hati sembari nafasnya yang tersengal-sengal.

Tapi alangkah kagetnya Raisya saat lampu led kecil di handphone nya menyala yang menandakan ada pesan masuk untuknya.

Setelah dibuka, ternyata ada chat bbm dari Rey. Yang isinya sebait puisi.

"PERGI"

Jika kedatanganmu tak diharapkan,
Jika keberadaanmu hanya akan membawa masalah baginya,
Hanya ada satu pilihan, "PERGI"

Waktu 4 tahun sudah cukup untuk membawa beban di hatimu...
Turunkan beban itu, lalu "PERGI"

Terkadang "PERGI" akan terasa lebih baik dari pada harus bertahan memperjuangkan hal yang menyakitkan...

Bergegas "PERGI" melangkah menjauh darinya...
Karena "PERGI" bukan berarti meninggalkan, bukan berarti tak peduli...

"PERGI" adalah belaian terlembut untuk orang yang kita cintai yang tak mungkin kita miliki...


-Reyhan-


*****


Tak terasa air mata Raisya membasahi pipinya, memikirkan Rey yang selama ini ia abaikan.

"Maafin aku Rey..." bibir Raisya bergetar, berucap lirih dengan tatapan kosong dengan pikiran yang menuju pada penyesalan hatinya.

Namun ditengah lamunannya, ia terpikir sepintas ingin menemui Rey untuk menjelaskan penyesalannya.

"Yaa, aku harus menemui Rey, aku harus kesana..." hati Raisya berucap lirih, lalu segera bergegas menuju tempat dimana Rey biasa berada.

Tempat itu adalah warung mbok Minah, tempat Rey selalu membantu simboknya yang menekuni usaha warung makan nasi megono.


*****

Pagi itu udara masih terasa dingin, suasana kampung masih cukup sepi, lalu lalang kendaraan masih jarang, namun suasana sepi itu tidak berlaku untuk warung mbok Minah, warung yang terletak di pinggiran kampung yang berbatasan dengan sawah yang membentang.
Warung Mbok Minah yang sejak pagi buta warungnya sudah ramai oleh orang-orang yang ingin membeli nasi bungkus daun pisang untuk sarapan, dengan menu spesial megono.

Yaa, megono adalah masakan khas Pekalongan, sebangsa urap yang terbuat dari nangka muda yang dirajang kecil-kecil yang dimasak dengan bumbu dan rempah-rempah. Yang membuat nasi megono ini menjadi sangat sedap dan pas sebagai menu untuk sarapan.

Apalagi nasi megono buatan mbok Minah ini, dengan racikan dan bumbu yang tepat, serta bungkus daun pisang, membuat megononya menjadi idola bagi orang-orang yang ingin membelikan sarapan untuk anggota keluarganya, bahkan tak jarang banyak pembeli yang datang dari kampung sebelah, sengaja ingin menikmati megono made in mbok Minah.

*****

Namun saat mbok Minah sedang sibuk melayani pembeli yang sudah ngantri, tiba-tiba Raisya datang dengan agak terburu.
Seperti biasa, setelah sepedanya diparkir di depan warung, Raisya langsung masuk ke warung mbok Minah.

"Mas Rey... mas Rey...
Mbok, Mas Rey nya ada mbok...???" Tanya Raisya dengan tergesa-gesa.

Belum sempat dijawab oleh mbok Minah yang sedang sibuk melayani pembeli, Raisya langsung menuju halaman belakang, ke tempat dimana Rey berada.

Namun Raisya tak menemukan Rey, tempat menyuci piring yang biasa Rey membantu simboknya juga terlihat kosong tanpa Rey.
Lalu Raisya menuju bangku di belakang yang menghadap sawah juga tak ditemuinya Rey.

Raisya duduk di bangku yang terbuat dari bambu itu, dimana Rey biasa duduk sembari memandangi pematang sawah yang kadang sesekali menulis sesuatu di buku hariannya.

"Kamu dimana Rey...???
Kini saat aku benar-benar membutuhkan kamu, tapi kau malah pergi ninggalin aku Rey..." Hati Raisya berucap lirih.

"Rey sedang mendaki gunung Ndok..." jawab mbok Minah yang tiba-tiba duduk disamping Raisya, sembari membelai rambutnya.
(Ndok adalah nama panggilan khas Pekalongan untuk anak perempuan yang masih belia).

"Mendaki ke gunung mana mbok...???
Kok mas Rey gak bilang-bilang siihh...???" Tanya Raisya dengan nada agak sebel.

"Bukankah Rey pergi sama abangmu Fathir..???" Jawab mbok Minah singkat.

"Kok kak Fathir  juga gak bilang-bilang aku mbok...???" Ucap Raisya dengan wajah cemberut.

"Seng sabar ndok...
Paling besok sore juga mereka sudah pulang..." ucap Mbok Minah menenangkan.

"Tapi aku takut kalo pulang nanti sikap Rey berubah mbok...
Soalnya tadi pagi Rey bbm yang gak biasanya..." ucap Raisya curhat pada mbok Minah dengan nada yang agak panik.

"Bukankah kamu sudah terbiasa hidup tanpa Rey...???" Jawab mbok Minah singkat sedikit menyindir. Karena mbok Minah tau betul kalau selama ini Raisya sering mengacuhkan Rey.

"Tapi sekarang aku sadar kalo aku ternyata butuh Rey, mbok..." Raisya menjelaskan.

"Yasudah, aku yakin semua akan baik-baik saja... tunggu saja saat Rey pulang besok, nanti simbok bantu jelaskan sama Rey..." ucap mbok Minah menenangkan.

Pagi itu hati Raisya sungguh gelisah, tak biasanya Raisya sekhawatir itu, Raisya yang semula cuek pada Rey tapi kali ini ada kegelisahan dalam hatinya.

Rey yang selama ini memberi perhatian penuh padanya, kini tak biasanya menulis kata-kata tentang "pergi". Entah apa itu arti kata-kata itu. Yang jelas kata-kata itu mampu membuat Raisya cemas.

"Sekarang aku baru sadar Rey, kamulah yang selama ini mampu bertahan memberikan perhatian yang tulus padaku meski kadang perhatian itu sering aku abaikan....
Maafin aku Rey..." ucap Raisya dalam hati.

*****

Sementara itu, di jalur pendakian gunung Merapi, Rey dan Fathir sedang berjalan melakukan pendakian menuju puncak gunung Merapi via Selo.
Mereka berdua sudah terbiasa mendaki gunung. Karena mereka sudah sahabatan sejak kecil dan kebetulan mempunyai hobi yang sama.

Ransel besar menempel di punggung mereka masing-masing, nafas yang berderu yang diiringi detak jantung yang memompa darah mengalir lebih cepat. Membuat keringatnya bercucuran lebih deras.
Kadang sesekali mereka istirahat untuk sekedar minum dan meregangkan otot.

Yaa, pendakian gunung Merapi tergolong jalur pendakian yang cukup ekstrim, bagaimana tidak gunung yang keliatannya kecil namun jalurnya penuh tanjakan yang menguras tenaga, apalagi jalur setelah batas vegetasi, disana selain treknya yang terjal juga penuh bebatuan dan pasir yang licin.

Tapi bagi mereka semua itu tak menjadi penghalang baginya, karena baik fisik dan perlengkapan, mental mereka juga sudah teruji.

*****

Sabtu, di pos 3 atau sering disebut Watu Gajah dimana ditempat ini terdapat batu besar dan disekitarnya terdapat tanah yang datar yang biasa digunakan oleh para pendaki untuk mendirikan tenda, dari sini ke pos Pasar Bubrah sudak tidak terlalu jauh.
Saat itu waktu menandakan pukul 4 sore, Fathir sedang asyik memasak di depan tenda sembari menikmati secangkir kopi hitam yang masih panas, dengan sebatang rokok yang selalu membuat hangat suasana.
Semantara Rey lebih sibuk dengan buku catatannya, bermain dengan pena yang tulus membelai selembar kertas putihnya. Sembari sesekali menghisap rokok kretek dan memainkan asapnya.
Wajahnya tenang, pandangannya sesekali menerawang menembus kabut yang menggumpal di kejauhan. Yang sesekali tangannya mengibaskan rambut panjangnya ke belakang.

"Kaya'nya ada pujangga yang sedang nulis puisi niihh...???" Celoteh Fathir sambil mengaduk sayur sop yang tengah dibuatnya.

"Aaahh lu koki restoran bintang tujuh berisik aje luuhh..." jawabnya balik mengejek.

Namun Fathir sengaja tak menimpalinya lagi. Lebih memilih senyum dan menertawakannya.

Sementara Rey lebih memilih meneruskan menulis karena suasana waktu itu terlalu syahdu untuk dilewatkan tanpa mengutarakan isi hatinya lewat pena.

Tapi entah mengapa, di ending tulisan Rey menuliskan kata-kata:

"Jika memang aku tak mampu meneruskan kisahku untuk menjaga hatimu, setidaknya aku ingin kamu tau bahwa akulah orang yang tulus mencintaimu..."

Rey nampak tertegun, wajahnya sendu seperti ada sesuatu yang dipendam selama ini.

"Thir, seandainya aku mencintai adikmu, apa yang akan kamu lakukan...???" Rey tiba-tiba bertanya pada Fathir.

Fathir seketika terperanjat, tak percaya atas yang diucapkan sahabatnya. Cukup lama Fathir terdiam, lalu dia menjawab.

"Aaahh kaya' gak tau aja, Raisya pacaran sama Rendy saja aku gak setuju, apa lagi sama kamu yang aku sudah tau seperti apa busuk-busuknya kamu..." Fathir menjawab enteng, menganggap sahabatnya Rey bercanda.

"Tapi seandainya itu terjadi, apa yang akan kamu lakukan ke aku...???" Rey kembali bertanya.

"Kenapa siihh kamu Rey...???
Seandainya itu terjadi, aku akan pukul dadamu tiga kali dan membentur-benturkan kepalamu di kepalaku.... puas kamu Rey... hahaa..." jawabnya bercanda.

Namun Rey tetap diam, nampak ada kesedihan yang mendalam yang selama ini ia simpan.

Tak bisa dipungkiri sebenarnya Rey sudah jatuh hati pada Raisya dari bertahun-tahun yang lalu, tapi Rey lebih memilih menyimpan perasaannya karena ia tak enak hati jika sahabatnya Fathir mengetahui, apalagi Raisya selama ini cuek padanya dan lebih memilih Rendy sebagai kekasihnya.

Namun melihat wajah Rey yang tetap termenung, Fathir mulai curiga atas apa yang diucapkan Rey.

Saat Fathir ingin menginterogasi lebih dalam, tiba-tiba cuaca menjadi lebih ekstrim.

kabut tebal bergumpal datang disertai angin kencang. tak butuh waktu lama, seketika hujan mengguyur sangat deras.

Mereka pun segera mengemas peralatan masaknya, lalu segera masuk ke tenda.

Tapi hujan tak kunjung reda, malah angin terasa makin kencang. Dengan raincoat warna merah yang kebal air, Rey nekat keluar tenda untuk mengecek keadaan.
Namun cuaca tak seperti biasa, feeling Rey berkata,

"Ini bukan hujan biasa, ini badai besar...!!!"

Lalu Rey kembali masuk ke tenda, memberi tau pada Fathir tentang cuaca diluar.

"Thir, aku yakin ini badai...
Kita harus mengambil keputusan...
Lebih baik kita kemas tenda kita lalu turun..." ucap Rey dengan nafas yang tersengal-sengal.

"Tapi kita belum muncak...???" Jawab Fathir keberatan.

"Sementara jangan pikirkan muncak dulu, ini tidak memungkinkan...
Ayoo kita berkemas lalu turun...!!!" Rey memberi saran.

Lalu Fathir mencoba melihat dengan mata kepala sendiri apa yang sebenarnya terjadi, kepalanya nongol keluar dari pintu tenda persis seperti kepala kura-kura yang keluar dari tempurungnya.

Seketika wajah Fathir berubah penuh kecemasan, melihat hujan yang turun tak seperti biasanya. Bahkan tenda yang biasanya baik-baik saja saat hujan, kali ini tenda mereka sering terhempas tertiup angin.

"Oke kalo begitu..." jawab Fathir dengan wajah panik.

Lalu mereka langsung mengemasi barang-barangnya. Tenda segara dibongkar dan dimasukkan ke keril. Dan setelah semua rapi, mereka pun siap berjalan turun.

Namun saat mereka hendak turun, Rey melihat di sekitar area Pasar Bubrah masih terdapat tenda dan banyak pula pendaki yang terjebak disana.

Rey berubah pikiran, di ingin menolong mereka yang masih berada diatas.

"Thir, kamu turun duluan...
Kasih tau para pendaki lain yang masih ngecamp di bawah untuk segera turun, karena cuaca terlalu ekstrim..." ucap Rey sembari menepuk pundak Fathir.

"Gila kamu Rey, diatas sangat berbahaya, belum genap jam 5 sore tapi langit sudah sangat gelap seperti ini, dan angin juga sangat kencang itu sangat berbahaya...
Ayoo kita turun bareng aja...!!!" Fathir mengajak Rey sembari menarik tangannya agar segera turun.

"Tidak Thir, aku harus keatas, banyak pendaki yang terjebak disana... kamu turun dulu kasih tau yang lain...
Ini pilihan yang terbaik Thir..." ucap Rey menyakinkan sahabatnya. Dibawah derasnya hujan dan sabetan angin yang mampu memporak-porandakan hutan.
Sesaat semua terdiam, menatap satu sama lain.

"Aku gak mungkin ninggalin kamu Rey..." ucap Fathir dengan nada yang agak berteriak bersaing dengan suara guyuran hujan yang semakin deras.

Di tengah kepanikan tiba-tiba pohon sengon disamping mereka roboh diterjang angin.

Lalu tanpa pikir panjang Rey mendorong tubuh Fathir untuk segera turun.

"Cepat turun Thir cepat..." teriak Rey pada sahabatnya. Namun Fathir tetap diam.

Keduanya kembali terdiam, Rey mebuka kupluk raincoatnya dan membiarkan rambut panjangnya basah tersiram air hujan. Lalu Rey memeluk Fathir erat sembari berkata.

"Aku akan baik-baik saja sobat, kita harus menyelamatkan mereka...
Kita ketemu di basecamp, oke...!!!???" lalu Rey melepas pelukannya, merogoh kantong raincoatnya dan mengambil buku yang sudah terbungkus kantong kresek hitam.

"Seandainya ada sesuatu terjadi, titip ini buat Raisya..." ucap Rey sembari memberikan buku itu pada Fathir.

Mereka terdiam saling memandang. Dibawah guyuran air hujan mereka tak biasanya merasakan hal seperti ini.

Selang berapa lama, tanpa berucap lagi, Rey membalikkan badan dan menuju ke arah Pasar Bubrah.

Semantara Fathir berlari menuju bawah untuk memberi informasi pada pendaki lain untuk segera berkemas dan turun.

Ditengah ketegangan jiwanya, namun Fathir yakin Rey akan baik-baik saja, dia teringat sudah sering Rey mengambil keputusan ekstrim, walau membahayakan nyawanya sendiri namun Rey tetap baik-baik saja.
Dia teringat dulu waktu masih sekolah, saat terjadi tawuran dan mereka terkepung, Rey pernah menyelamatkan teman-temannya.
Dia menyuruh Fathir dan teman-teman yang lain untuk pergi, sementara dia menghadang musuh hanya dengan pentungan kayu seorang diri, saat Fathir dan yang lain sudah lari jauh tak terlihat, Rey yang sudah membuat musuhnya kesal, seketika lari dengan jurus langkah seribunya, sehingga musuh lebih memilih mengejar Rey dibanding Fathir, namun dengan tubuh Rey yang ramping membuat Rey mudah lari kesana-kemari melompati pagar pekarangan rumah warga dan akhirnya Rey lolos dari kejaran musuh.

Yaa begitulah karakter Rey yang senang mengambil resiko.

*****

Sementara itu, Fathir terus berjalan menuruni jalur menuju pos 2, di sana tenda yang masih berdiri yang kemudian Fathir berteriak kencang agar semua pendaki bergegas turun ke basecamp.

Seketika semua sigap berkemas dan membongkar tendanya masing-masing.
Hujan dan angin masih sangat kencang, banyak pohon-pohon yang roboh yang membuat jalur menjadi teramat sulit untuk di lalui.

Tepat jam 8 malam semua pendaki berhasil evakuasi ke basecamp. Namun ada beberapa pendaki yang masih terjebak diatas karena cuaca yang sangat ekstrim.

Team SAR segera diterjunkan untuk mengevakuasi pendaki yang masih terjebak diatas, suasana kepanikan nampak di basecamp, radio HT selalu berbunyi memberi informasi satu sama lain antar petugas team SAR.

Fathir dan beberapa pendaki lain yang baru saja sampai di basecamp langsung disambut oleh para relawan basecamp, diberi minuman hangat, sembari diinterogasi tentang keadaan diatas.
Untuk memberikan informasi kepada team SAR yang sedang menuju ke atas.

Setelah semua selesai, Fathir dan pendaki lain di persilakan istirahat.

Sementara suasana di basecamp masih tetap sibuk penuh kepanikan. Komunikasi lewat HT masih saling bersautan antar team SAR. Dan tentunya kabar badai di lereng Merapi pun langsung menyebar lewat media sosial.

Namun ditengah kepanikan itu, Fathir dengan tubuh yang lelah dengan pelan merebahkan tubuh di tikar yang telah disediakan.

Pikiran menerawang menuju pada sahabat yang masih diatas sana.

"Aku yakin kamu baik-baik saja Rey..." hatinya berisik lirih.

Pikiran terus menerawang membayangkan sahabatnya, lelah yang merobek jiwanya tak mampu melelapkan matanya untuk sekedar melepas lelah. Pikiran tetap tertuju pada Rey.

Seketika lamunannya tersentak saat Fathir teringat pada seonggok buku yang terbungkus kantong kresek hitam yang berada disampingnya.
Rasa penasaran berkecamuk dalam hatinya, ia pun ingin segera membuka dan ingin tau tentang tulisan Rey selama ini.

============BERSAMBUNG===========

Untuk akhir cerita silahkan KLIK DISINI

Dijamin akan lebih seru dan penuh haru..!!!